Agen Judi Bola – Sang Mantan dan Old Trafford yang Masih Galau

Update Terakhir: February 19, 2016

Agen Judi Bola - Sang Mantan dan Old Trafford yang Masih Galau

Agen Bola Terpercaya – Februari katanya bulan penuh cinta ya, tentu saja gara-gara hari Valentine. Mungkin begitu buat yang sedang kasmaran dengan pasangan, tapi bagaimana dengan yang masih sukar move on dan bahkan terus dibayang-bayangi mantan? Apalagi kalau sang mantan adalah sosok macam Sir Alex Ferguson.

“Yesterday all my troubles seemed so far away.
Now it looks as though they’re here to stay.
Oh, I believe in yesterday.”

Oke, The Beatles memang berasal dari Liverpool. Dan bait awal lagu “Yesterday” itu (mestinya) juga bukan soal sepakbola. Tapi pada dasarnya untuk Manchester United mengenang masa-masa “kemarin” saat masih bersama Ferguson, selama 26 tahun nan panjang berisikan 38 piala, adalah hal mengasyikkan karena yang hobi dekat-dekat saat itu adalah gelar juara alih-alih “masalah”.

Setelah 33 bulan tanpa Ferguson di kursi manajer, yang namanya masalah malah seperti tak mau jauh-jauh dari ‘Setan Merah’. Maka kalau di masa lalu fans United bisa terus-terusan membusungkan dada, yang ada belakangan ini malah harus rajin mengelus dada–antara bersabar melihat performa tak memuaskan atau karena habis-habisan dicela fans tim lawan.

Dimulai dari David Moyes, seorang pria Skotlandia seperti halnya Ferguson. The Chosen One Sang Manajer Pilihan. 10 bulan kemudian United justru tidak punya pilihan terkecuali melakukan pemecatan. Saat ia diberhentikan, United dipastikan sudah tak mampu lolos ke Liga Champions untuk kali pertama sejak 1995 dan finis di luar posisi tiga besar untuk pertama kalinya dalam sejarah Premier League.

Pada durasi waktu di Old Trafford tersebut Moyes setidaknya punya persentase kemenangan 52,94% (hasil 27 kemenangan dari 51 pertandingan) melampaui persentase serupa ketika ia menangani Preston North End (48,29%) dan Everton (42,08%)–walaupun tentu harus mempertimbangkan masa singkatnya di United dan periode 11 tahun di Everton dan empat tahun di Preston North End. Ya, lumayanlah. Tapi apa itu cukup buat klub seperti United yang sebelumnya sudah bergelimang gelar juara? Tidak. Misi untuk Moyes seperti kelewat berat, terlebih bayang-bayang nama besar Ferguson masih teramat dekat.

Kemudian datanglah Louis van Gaal. Di tangan kiri ia menenteng sekoper CV bukti pernah menangani tim-tim top macam pernah menangani Ajax, Barcelona, Bayern Munich, sampai timnas Belanda. Tangan kanannya digelayuti setumpuk gelar juara di antaranya titel La Liga, Eredivisie, Bundesliga, dan Liga Champions. Langkahnya tegap dengan dagu terangkat penuh percaya diri. Seluruh pencapaiannya memang memberi justifikasi.

Dengan tekad menuntun United tak galau lagi dan segera meninggalkan era “Post-Fergie”, di akhir musim pertama Van Gaal setidaknya sudah mampu mengantar klub finis di posisi empat Premier League–tiga tempat dan enam poin lebih baik dari musim sebelumnya. Tiket (play-off) Liga Champions juga didapat. Itu sudah ia lakukan dengan kukuh berdiri mempertahankan filosofi di tengah-tengah serbuan kritikan dan ketidakyakinan.

“I’m ‘a do things my way.
It’s my way.
My way, or the highway”

Teriakan Fred Durst vokalis Limp Bizkit di lagu “My Way” yang populer lebih dari satu dekade lalu itu boleh boleh jadi menyimbolisasikan betapa kemudian Van Gaal benar-benar amat setia pada filosofi yang ia miliki. Selesai euforia musim pertama, karena akan tampil di Liga Champions lagi, perkara itu lantas menjadi masalah tersendiri.

Jika saja kengototan Van Gaal dengan filosofinya itu dibarengi dengan performa apik dan hasil ciamik, para pengkritik niscaya tak bisa berkata apa-apa. Tapi tersingkirnya United dari Liga Champions, yang dilanjutkan dengan serangkaian hasil tak memuaskan sampai-sampai permainan yang divonis membosankan, termasuk kini United yang kian jauh dari persaingan gelar juara Premier League, membuat sulit posisi Van Gaal.

Benar bahwa belakangan ini United memang sering punya penguasaan bola dominan. Tapi kerapkali pula itu tak dibarengi dengan kemenangan atau bahkan keberhasilan menjebol gawang lawan. Bayangkan melihat sebuah aksi koki yang kelihatan piawai sekali meracik bahan-bahan makanan kelas atas, tapi setelah 90 menit Anda menanti makanan sampai di meja si koki rupanya lupa memasukkan bumbu-bumbuan dan penyedap rasa. Makanan yang disajikan jelas tak enak, membuat Anda sebagai pelanggan pun murka. Sudah lama, rasanya hambar pula!

Agen Bola Terpercaya Indonesia – Sekilas menilik statistik di Premier League 2015-16, United sebenarnya punya catatan cukup apik dalam hal pertahanan karena cuma kebobolan 21 gol sampai dengan pekan 23, kebobolan 0,91 gol per partai. Ini menjadi catatan kebobolan paling sedikit kedua setelah Tottenham Hotspur (19 gol). Tapi di sisi lain United-nya Van Gaal juga cuma mampu membuat 28 gol, rata-rata 1,22 gol per partai dan kalah jauh dari, katakanlah, Manchester City (45 gol), Leicester City (42), atau bahkan Everton yang ada di papan tengah menjurus ke bawah. Inilah yang tidak biasa dialami para suporter United.

Maka pada awal tahun 2016 ini masa depan Van Gaal, yang sampai akhir Januari persentase kemenangannya di United berada pada titik 50,63% (40 kemenangan dari 79 pertandingan) alias belum lebih baik dari Moyes, pun mulai kencang dispekulasikan.

Bayang-bayang Ferguson juga ikut meramaikan. Van Gaal dibanding-bandingkan, bukan cuma terkait hasil dan gaya main tim tapi bahkan gaya keduanya di dalam sebuah pertandingan; kalau Ferguson dulu penuh aksi di tepi lapangan, Van Gaal kini lebih banyak duduk dan mencoret-coret di buku tulisan yang setia ia pegang di tangan.

“Anda tahu ‘kan, saya bukan Sir Alex?” sebut Van Gaal pertengahan Januari lalu. “Semua orang berbeda dan saya tidak yakin dengan cara teriak-teriak dari tepi lapangan. Saya lebih percaya pada komunikasi yang dilakukan pada saat persiapan menuju pertandingan dan saya yakin dengan para pemain.”

Bayang-bayang Ferguson muncul kian dekat seiring dengan munculnya rumor lain menjelang akhir bulan; Van Gaal saat itu dikatakan berpotensi diberhentikan, dan jika itu dilakukan maka Ryan Giggs bakal naik mengambil alih tim dengan Ferguson dari belakang akan memberikan sokongan dan wejangan.

Ah, tapi yang menarik pada momen-momen itu pula sosok Ferguson malah kelihatan menyaksikan pertandingan Manchester City di Etihad! Rasanya seperti mendapati mantan kekasih tiba-tiba main ke rumah tetangga Anda dan berduaan dengan si tuan rumah yang juga dikenal paling tajir se-RW. Padahal dulu ia pernah melabeli si tajir ini sebagai orang yang bawel sekali! Habislah (fans) United di-bully.

Memasuki Februari, menapaki jalan menuju sisa musim ini, fans United tentu berharap tim kesayangannya tak sampai jadi “butiran debu” usai ditinggal Ferguson walaupun sudah terjatuh, tetap mampu bangkit lagi, berpacu menuju masa depan, sehingga tidak terlalu galau dan larut semata pada kejayaan masa lalu.

Sekalipun nanti kalau United jadi merekrut Jose Mourinho, yang isunya dari hari ke hari semakin santer, tetap saja takkan mudah punya mantan semacam Alex Ferguson.