Agen Bola Terpercaya – Kesalahan Kroasia dalam Memaksimalkan Luka Modric

Update Terakhir: June 26, 2016

Agen Bola Terpercaya - Kesalahan Kroasia dalam Memaksimalkan Luka Modric

Bola388.org merupakan salah satu Agen Bola Terbaik di Indonesia yang akan menyediakan Judi Online seperti Casino Online, SBOBET, IBCBET, Bola Tangkas Online maupun Sabung Ayam Online, kami juga menyediakan jasa pembuatan akun bagi setiap member Judi Bola / Judi SBOBET yang belum mempunyai untuk bermain Judi Online dengan proses pembuatan akun yang cepat dan mudah untuk bisa bermain Judi Bola Online, begitu banyak member setia menggunakan layanan Agen Bola Terpercaya seperti kami yang saat ini sudah mencapai ribuan member. Kami adalah Agen Judi Bola Online yang siap melayani anda selama 24 jam penuh, kami bisa begitu besar sampai saat ini berkat dukungan dari anda selaku member dari Agen SBOBET terpercaya. Bola388.org bukan sekedar Bandar Judi Online melainkan sebagai Bandar Judi Terbaik yang melayani anda dalam permainan Judi Online, Judi SBOBET, Casino Online maupun Judi IBCBET.

Agen Sabung Ayam Online – Langkah Kroasia, yang sempat mengejutkan dengan mengalahkan Spanyol, di Piala Eropa 2016 harus berhenti di fase 16 besar. Mereka ditaklukkan Portugal dengan skor tipis 1-0 di Stade Bollaert-Delelis, Lens, Minggu (26/6). Satu-satunya gol dicetak melalui sundulan Ricardo Quaresma pada menit ke-117.

Pertandingan ini berjalan sampai dengan babak kedua perpanjangan waktu dan tempo permainan kedua kesebelasan begitu lambat hingga tanpa gol. Kedua kesebelasan bermain dengan sangat hati-hati pada laga ini.

Bahkan tidak ada tendangan yang mengarah ke gawang satu kali pun selama 90 menit. Dari total 23 tembakan pada laga ini, ada dua tendangan yang mengarah ke gawang, dan itu dari proses gol yang dicetak Quaresma.

Lini Tengah Portugal Paksa Luka Modric Turun Lebih Jauh

Para pendukung Kroasia menaruh harapan besar ketika Luka Modric kembali masuk ke susunan pemain. Sebelumnya, Modric tidak bisa diturunkan karena mengalami cedera. Tapi kali ini ia kembali bisa dimainkan sebagai salah satu poros ganda pada formasi 4-2-3-1 a la Ante Cacic.

Modric ditemani Milan Badelj sebagai gelandang bertahan pada poros ganda tersebut. Ia pun kembali menjalankan tugasnya beroperasi di area lapangan tengah. Bintang Real Madrid itu berupaya menjadi jembatan antara lini dan penyuplai bola ke berbagai area serangan Kroasia.

Tapi pada laga ini Modric bermain sedikit berbeda daripada sebelum-sebelumnya. Ia lebih sering melepaskan umpan-umpan jauh ke depan. Modric tidak leluasa menguasai bola karena selalu mendapatkan hadangan dari lawan. Apalagi Modric dijaga ketat oleh Adrien Silva.

Kawalan itu cukup berisiko bagi Modric yang baru sembuh dari cedera. Alhasil perannya ditukar dengan Badelj yang sebelumnya beroperasi di depan kotak penalti Kroasia. Kroasia mengurangi beban Modric dengan menempatkannya konsisten di tengah tanpa banyak berlari.

Kroasia tidak terburu-buru merebut bola dari lawan pada laga ini. Mereka lebih mengincar operan bola dari Portugal yang bisa dicegat mengingat Portugal sering melakukan kesalahan operan pada laga tersebut.

Perubahan Tugas Modric Mengurangi Kreativitas Kroasia

Sebetulnya perubahan peran Modric sangat membantu pertahanan Kroasia, apalagi Badelj pun tidak terlalu jauh meninggalkan area depan kotak penalti. Terkadang Modric turun sejajar dengan bek tengah. Ia menutupi kekosongan yang ditinggalkan Vedran Corluka yang bergerak ke pertahanan sisi kanan.

Corluka berevolusi menjadi defensive full-back kanan untuk meredam Cristiano Ronaldo. Hal ini tak lepas dari kecenderungan serangan Portugal yang acapkali diarahkan ke daerah kekuasaan Ronaldo. Tapi naluri bertahan Corluka berhasil meredam Ronaldo. Bahkan Corluka berhasil seluruh duel udara dengan Ronaldo sebanyak empat kali.

Perpindahan peran Corluka ini pun tidak lepas dari aktifnya Darijo Srna, full-back kanan Kroasia, membantu serangan. Srna menjadi andalan Kroasia untuk membangun serangan dari sisi kanan. Tapi pola itu karena tidak ada pilihan lain. Sebab tidak ada jembatan antara kedua sisi lapangan yang diperankan Modric karena ia turun jauh ke belakang.

Eksploitasinya di sisi kanan hanya karena Raphael sering terlambat turun bertahan. Sementara Jose Fonte, bek tengah Portugal, sering kalah cepat dengan Srna. Tapi ketika ada dua pemain belakang Portugal itu, Srna sedikit kesulitan mendapatkan ruang untuk melepaskan umpan. Sebab Srna tidak memiliki pemantul bola yang biasa diperankan Modric untuk mencari ruang.

Aliran bola Kroasia hanya tergantung pada satu sisi saja. Tidak ada Modric yang mampu mengalirkan ke sisi lain. Tidak hanya Srna, Ivan Rakitic pun kehilangan tandem di lini tengahnya. Rakitic harus turun jauh ke area lapangan tengah menutupi kekosongan Modric.

Otomatis perantara yang biasa mengandalkan Modric dan Rakitic hilang pada laga ini. Pantulan bola atau umpan terobosan dari mereka tidak banyak terlihat pada laga ini. Justru lebih banyak menunjukan umpan-umpan jauh dari belakang langsung ke depan.

Modric baru mulai kembali bermain ke depan ketika menjelang akhir babak kedua. Fungsi itu tetap bertahan pada babak pertama tambahan waktu. Kemudian ia kembali beroperasi di depan kotak penalti pada perpanjangan babak kedua. Modric pun bergerak naik kembali ketika sudah tertinggal gol Quaresma.

Portugal Tak Terlalu Banyak Mengubah Skema Serangan

Agen SBOBET Terpercaya – Kroasia sempat mengubah pola serangannya terutama ketika pergantian babak. Sejak waktu itu Ivan Strinic, full-back kiri, lebih sering naik membantu serangan. Ia lebih agresif menyerang untuk melepaskan umpan-umpan silang ke kotak penalti Portugal. Sebelumnya, hanya Srna yang lebih dimaksimalkan untuk hal tersebut. Sementara Strinic hanya sesekali saja membantu serangan sampai sepertiga akhir.

Di sisi lain Portugal tetap melakukan skema serangan yang sama. Mereka membiarkan kedua penyerang yang dilakoni Ronaldo dan Nani agar bergerak turun dan melebar. Hal itu agar kedua gelandang tengahnya bisa lebih naik ke sepertiga akhir lawan. Tapi strategi itu kurang efektif karena Ronaldo sulit melewati Corluka. Ronaldo pun sering bersalah paham dengan pergerakan Raphael Guerreiro, full-back kiri Portugal.

Yang berubah dari serangan Portugal hanya soal kecenderungan saja. Mereka tahu bahwa Ronaldo terus mendapatkan kesulitan. Hingga akhirnya kecenderungan serangan lebih sering ditujukan kepada Nani di sebelah kanan. Dan pola serangan Portugal pun masih sama-sama mengandalkan umpan-umpan panjang.

Khusus suplai yang diberikan Nani pun karena Portugal melihat Strinic yang mulai agresif membantu serangan. Hal itu membuat area pertahanan di sisi kiri Kroasia terkadang lebih mudah dieksploitasi. Serangan yang diarahkan ke area itu pun semakin sering dengan masuknya Renato Sanches.

Bisa dibilang Sanches adalah pembeda pada laga ini. Ia masuk pada menit 49 menggantikan Andre Gomes. Pemain yang digantikannya itu memang tampil kurang baik pada laga ini. Gomes tidak bisa menjadi perantara yang baik untuk lini serang Portugal. Ia lebih sering kehilangan bola karena direbut lawan atau operannya tidak tepat sasaran. Total, Gomes cuma melepaskan operan sukses sebanyak tujuh kali.

Sanches setidaknya lebih baik ketimbang Gomes pada laga ini. Ia meluncurkan 32 operan tepat sasaran dan menghasilkan satu umpan kunci. Hal itu tidak lepas dari mobilitasnya di lapangan. Sanches lebih sering bergerak ketimbang Gomes, lebih berani pula untuk beradu fisik dengan pemain lawan. Mobilitas pemain 18 tahun ini pun melahirkan tiga dribel sukses pada laga ini.

Bukan Penyelasaian Akhir yang Buruk, Tapi Pola Serangan yang Membuat Buntu

Pertandingan begitu membosankan karena tidak adanya tembakan ke gawang yang tercipta sampai babak dua perpanjangan waktu. Padahal lini serang kedua kesebelasan sama-sama diperkuat pemain dengan naluri mencetak gol yang tinggi. Portugal dihuni Ronaldo, sementara Kroasia dengan Mandzukic.

Tapi mandulnya kedua pemain tersebut bukan tanpa alasan. Ronaldo dengan Nani sebagai duetnya terlalu bergerak ke bawah dan melebar. Mereka membiarkan para gelandangnya yang bekerja keras untuk mencari bola, terutama ketika melancarkan pressing ke penguasaan bola di pertahanan Kroasia.

Ronaldo dan Nani hanya berharap mendapatkan bola pantulan hasil dari rebutan para gelandangnya. Atau mereka menunggu umpan-umpan lambung dari lini belakang. Dan rapatnya pertahanan Kroasia, memaksa Portugal untuk lebih sering melepaskan tembakan-tembakan jarak jauh.

Sementara bagi Kroasia jelas dari sitem pengawalan kepada penyerang tunggalnya. Tidak tanggung Pepe dan Jose Fonte bergantian mengawal Mandzukic, bahkan terkadang kedua-duanya menjaga penyerang tunggal Kroasia itu. Hal itu juga berlaku ketika Nikola Kalinic sudah menggantikan Mandzukic.

Sistem penjagaan dua bek itu bisa berjalan lancer karena baik Pepe atau Jose Fonte tidak terlalu khawatir akan ancaman di depan kotak penalti. Seperti yang diketahui jika Rakitic turun terlalu jauh. Area itu sering disusupi Marcelo Brozovic, winger kanan Kroasia. Tapi Brozovic pun tidak bisa lepas dari kawalan Silva. Hal itu membuat Kroasia terus melepaskan umpan jauh dan silang yang percuma.

Kesimpulan

Kroasia terlalu memaksakan Modric bermain dalam waktu penuh. Dalam situasnya saat ini ada baiknya ia baru diturunkan pada babak kedua. Atau ia diganti lebih cepat ketika kreativitas serangan Kroasia mulai buntu. Walau Modric bermain cukup baik pada perannya menjadi gelandang bertahan saat itu.

Kroasia memang menguasai pertandingan ini dengan rataan penguasaan bola sebesar 61 persen. Tapi mereka memenangkan penguasaan bola itu di zona aman mereka sendiri. Sebab, mundurnya Modric membuat penguasaan bola Kroasia unggul di wilayahnya sendiri.

Namun mundurnya Modric dan penguasaan bola Kroasia itu tidak lepas dari pressing agresif yang dilancarkan Portugal. Kurang andilnya Modric dalam membangun serangan dan buntunya lini tengah Portugal, menjadi penyebab utama minimnya tendangan ke gawang pada laga ini.










*) wajib diisi

*) jika kolom " referensi " di isi " teman " mohon kolom " ID Teman " di isi sesuai Id teman anda