Agen Bola Terpercaya Indonesia – Sepakbola Eropa Sebenarnya Tidak Butuh Winter Break

Update Terakhir: January 27, 2016

Agen Bola Terpercaya Indonesia - Sepakbola Eropa Sebenarnya Tidak Butuh Winter Break

Agen 998bet Terpercaya – Dari 53 liga domestik di Eropa, hanya enam saja yang tidak menerapkan winter break atau jeda musim dingin. Mereka adalah Inggris, Irlandia Utara, Israel, Skotlandia, Spanyol, dan Wales. Sebenarnya masih 11 liga lagi, tetapi mereka1 tidak masuk ke dalam pembahasan kali ini karena liga mereka memang tidak terpotong musim dingin.

Ke-11 negara yang liganya tak terpotong musim dingin (selesai sebelum musim dingin datang) adalah Belarusia, Estonia, Finlandia, Irlandia, Islandia, Kazakhstan, Kepulauan Faroe, Latvia, Lithuania, Norwegia, dan Swedia.

Khusus Spanyol, mereka biasanya memiliki jeda musim dingin selama dua pekan. Hanya saja dua hari sebelum berlangsungnya La Liga musim ini, pihak liga menyatakan bahwa mereka akan libur selama akhir pekan 26 dan 27 Desember 2015 saja (setelah Hari Natal), sedangkan setelah itu liga akan dimulai kembali; tepatnya pada 30 Desember.

Tidak seperti kita di Asia Tenggara, Benua Eropa memiliki empat iklim, dengan dua yang paling ekstrem adalah musim dingin dan musim panas. Sehingga secara umum akan terdapat dua “waktu liburan” bagi masyarakat Eropa.

Dari seluruh kompetisi liga di dunia, memang hanya liga di Benua Eropa saja yang memiliki jeda yang berlangsung di tengah-tengah kompetisi selama musim dingin. Jeda ini rata-rata berlangsung selama 10 hari sampai dua pekan, meskipun pada kasus khusus bisa sampai satu bulan seperti Jerman di musim ini (19 Desember sampai 22 Januari).

Namun, sebenarnya jeda musim dingin sudah semakin pendek dari tahun ke tahun. Akhir tahun 1980-an adalah saat yang sudah terlupakan di mana liga bisa libur total selama Bulan Januari.

Ada beberapa hal yang membuat kita penasaran. Apakah winter break dibutuhkan di sepakbola Eropa? Apa pengaruh dari winter break tersebut?

Mereka yang Protes Ingin winter break

Agen Bola Terbaik – Michel Seydoux, presiden Lille OSC, melakukan survei kepada para pemainnya pada 2009. Menurut hasil survei tersebut, seluruh pemainnya saat itu lebih memilih memiliki libur tambahan selama satu pekan di musim panas daripada ada libur di musim dingin.

Tapi Seydoux sepertinya tidak setuju. “Jika Anda ingin melihat sepakbola di saat Natal, tonton saja Inggris, jangan Prancis,” katanya. Sampai saat ini Prancis memang masih menerapkan jeda musim dingin. Namun, wacana penghapusan jeda musim dingin ini terus beredar setiap tahunnya. Ini seperti antitesis dengan apa yang terjadi di Inggris, di mana sebaliknya, wacana jeda musim dingin yang terus muncul ke permukaan.

“Inggris adalah kesebelasan negara yang paling tidak bugar dari semua negara peserta, karena liga mereka tidak menerapkan jeda (musim dingin),” kata Fabio Capello. Kita harus kembali melihat pernyataan Capello di atas sesuai konteks, karena pernyataan tersebut ia ucapkan saat Inggris tersingkir dari Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Capello saat itu adalah manajer Inggris. Ia berkata bahwa para pemain Inggris terlalu lelah karena mereka memainkan banyak pertandingan. Padahal Liga Primer Inggris adalah liga yang memainkan jumlah pertandingan yang sama (38 pertandingan dalam semusim) dengan Spanyol, Italia, Prancis, dan lain-lain.

Pernyataan senada juga diucapkan oleh kebanyakan manajer Liga Primer saat ini. Louis van Gaal, manajer Manchester United, berkata bahwa ketidakadaan winter break adalah “hal yang paling kejam dari budaya di Inggris” dan “itu sangat tidak baik bagi Inggris.”

“Akan jauh lebih baik untuk memberikan libur kepada para pemain selama 15 hari setelah Natal, ini sangat penting untuk mengisi ‘baterai’ mereka, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental,” kata Claudio Ranieri yang berhasil membawa kesebelasannya, Leicester City, bertengger di papan atas klasemen sementara.

Selain mereka berdua, ada Manuel Pellegrini (Manchester City), Mauricio Pochettino (Tottenham Hotspur), Roberto Martinez (Everton), dan bahkan Sam Allardyce (Sunderland) yang semuanya berpendapat bahwa kesebelasan asal Inggris akan memiliki performa yang lebih baik di kompetisi Eropa jika Inggris menerapkan winter break.

Setelah membaca beberapa pernyataan di atas, apakah Inggris (dan lima negara lainnya) benar-benar membutuhkan jeda musim dingin?
Jangan sampai kita melupakan nama Mesut Özil yang menjuarai Piala Dunia 2014 ketika ia bermain di Arsenal, David Silva (Man City) dan Juan Manuel Mata (saat itu Chelsea) ketika mereka juara Piala Dunia 2010 dan Euro 2012, serta jika melihat juara Piala Dunia dan Piala Eropa saja, kita sebenarnya bisa banyak menemukan mereka yang bermain di liga tanpa winter break, terutama Liga Primer.

Selain yang sudah disebutkan di atas, ada tiga pemain Liga Primer yang menjuarai Piala Dunia 1998 (Prancis), tujuh di Euro 2000 (Prancis), satu di Piala Dunia 2002 (Brasil), dua di Euro 2004 (Yunani), tidak ada di Piala Dunia 2006 (Italia), lima di Euro 2008 (Spanyol), tiga di Piala Dunia 2010 (Spanyol), lima di Euro 2012 (Spanyol), dan empat di Piala Dunia 2014 (Jerman).

Sejujurnya, Liga Primer saja sekarang sudah lebih banyak dipenuhi oleh mereka yang berasal dari luar Inggris, bukan?

Pemain Butuh Break, Tapi Bukan Winter Break

“Di Inggris, saya tidak pernah menemukan kesulitan untuk bermain saat Natal dan Tahun Baru,” kata Robert Pires kepada FourFourTwo. Pires adalah salah satu pemain yang menjuarai Piala Dunia 1998 dan Euro 2000 bersama Prancis. “Saya senang bermain pada Boxing Day. Itulah yang terjadi di Inggris. Orang pergi (menonton pertandingan) bersama keluarga mereka dan menciptakan atmosfer yang luar biasa,” katanya.

Masalahnya, ini bukan lah soal suka atau tidak suka dan juga ingin atau tidak ingin jika kita membicarakan pertandingan di periode Natal dan Tahun Baru, melainkan soal butuh atau tidak butuh.

Dari sudut pandang pemain sendiri, meskipun saya bukan seorang pemain sepakbola, terus bermain tanpa terpotong libur adalah salah satu cara untuk tetap mempertahankan ritme permainan.

Masalah yang biasa dihadapi para pemain jika mereka liburan biasanya adalah untuk mengembalikan ritme atau performa mereka sebaik sebelum liburan. Kita mengenal istilah ini dengan nama “match fitness” di mana seorang pemain dinyatakan bugar untuk bertanding. Tidak semua pemain sehat adalah mereka yang “match fit”.

Biasanya pada setiap sebelum jeda atau liburan, level kebugaran setiap pemain diukur. Pemain kemudian dibebaskan pergi kemana saja, menghabiskan waktu dengan siapa saja, dan melakukan apa saja.

Tapi, mereka diberikan program latihan kebugaran yang harus mereka lakukan sendiri. Pada kesebelasan tertentu misalnya, tak jarang pemain diberikan sejenis alat tracking untuk memonitor latihan pemain ketika sedang liburan.

Setelah pulang liburan inilah level kebugaran setiap pemain akan kembali diukur. Hasilnya dicatat dan pemain diharapkan untuk tetap dalam kisaran tertentu. Pemain yang, misalnya, berat badannya naik akan terkena sanksi.

Agen Bola Euro – Pada jeda musim dingin, pemain Eropa (kecuali biasanya Spanyol dan Turki) cenderung akan pergi ke tempat yang lebih hangat. Mereka harus menghabiskan waktu di perjalanan, memakan makanan yang berbeda, dan tidak mendapatkan beban latihan yang seperti biasanya. Ini lah yang membuat jeda musim dingin menjadi “cobaan” alih-alih “berkah”.

Tidak jarang juga ada kesebelasan yang melakukan latihan berintensitas rendah sambil sesekali menjalankan pertandingan persahabatan di daerah yang lebih hangat, misalnya saja Bayern Munchen yang sudah lima tahun terakhir ini selalu menghabiskan winter break mereka di Aspire Academy Doha, Qatar; untuk kepentingan kebugaran, liburan, maupun bisnis.

Hangatnya matahari dan tempat yang baru memang bisa menyegarkan fisik dan pikiran.

“Jika Anda tidak berlatih selama beberapa pekan, ketajaman mental Anda akan terkikis dan Anda malah mendapatkan kerugian dari break,” kata Paul McVeigh.

Break dari latihan dan pertandingan sebenarnya akan menyediakan kesempatan bagi tubuh untuk melakukan pemulihan. Namun jika break tersebut terlalu lama, itu justru akan membuat pemain kehilangan kebugaran yang selama ini mereka bangun.

Jadi berhati-hatilah, meskipun kebanyakan dari pemain menginginkan winter break, tapi pemain justru lebih membutuhkan latihan dan pertandingan yang rutin (bukan secara berlebihan lho, ya) alih-alih beristirahat selama satu sampai dua pekan untuk menjaga ketajaman fisik dan mental mereka.

Plus dan Minus Winter Break

Tidak semua ahli sains olahraga sependapat bahwa semakin banyak latihan dan pertandingan, maka akan semakin besar kemungkinan cedera. “Semakin sering latihan, akan semakin tinggi tubuh mengalami stres dan semakin tinggi juga kemungkinan cedera,” kata Barry Drust.

“Namun ada potensi yang sebaliknya justru akan terjadi. Semakin jarang latihan dan bertanding, tubuh akan semakin tidak siap dengan tuntutan permainan dan kemungkinan cedera akan semakin tinggi lagi,” lanjutnya.

Memang tidak ada jawaban pasti untuk semuanya. Tubuh setiap pemain merespon hal yang berbeda dari kegiatan yang berbeda pula.
Menurut laporan dari Elite Club Injury Study dari UEFA, sebenarnya persebaran kasus cedera antara sebelum dan setelah musim dingin itu hampir merata di seluruh Eropa. Namun pada separuh musim kedua, ada risiko cedera yang lebih tinggi di Inggris.

Jika kita melihat laporan di atas, sebenarnya Inggris membutuhkan winter break, hanya saja memang jangan terlalu lama, misalnya satu pekan saja.

Tetapi kembali, winter break tidak sepenuhnya baik untuk sepakbola, terutama jika kita membicarakan momentum. Real Madrid yang memimpin klasemen di La Liga di musim 2014/15 sampai Tahun Baru, harus terpeleset di Bulan Januari setelah mereka pulang dari winter break di Dubai.

Contoh kasus yang lebih ekstrem datang dari Ligue 1 musim 2009/10. Girondins de Bordeaux memimpin klasemen dengan perbedaan sembilan poin sebelum winter break. Mereka mendapat jeda selama 10 hari, namun sepulang liburan mereka hanya berhasil menang lima kali dari 19 pertandingan. Mereka merosot sampai ke peringkat keenam di akhir musim, 14 poin tertinggal dari Olympique de Marseille yang, padahal, sebelum winter break ketinggalan 9 poin dari Bordeaux.

Disamping momentum, para pakar kesehatan di dunia juga kebanyakan tidak setuju dengan winter break. Mantan doktor tim Bayern dan Jerman, Hans-Wilhelm Muller-Wohlfahrt, menegaskan bahwa pemain lebih butuh break panjang di musim panas daripada break “nanggung” di musim dingin.

“Banyak kasus cedera terjadi karena pemain tidak break dengan baik di musim panas. Bundesliga seharusnya mempertimbangkan untuk menghapus winter break sehingga pemain bisa memiliki break dua setengah bulan di musim panas,” katanya.

Pro dan kontra winter break memang seperti perdebatan tiada akhir, sehebat perdebatan antara bakat vs kerja keras. Ini adalah soal keseimbangan antara latihan/pertandingan dan istirahat demi menghindari cedera, bukan sepenuhnya soal istirahat.