Agen Bola Terpercaya Indonesia – Penyerang Sayap Baru, Solusi Untuk Juergen Klopp

Update Terakhir: January 20, 2016

Agen Bola Terbaik - Penyerang Sayap Baru, Solusi Untuk Juergen Klopp

Agen Bola Terbaik – Hingga pekan ke-22 Liverpool masih berada di peringkat kesembilan klasemen sementara Liga Inggris. Sekilas, pergantian manajer dari Brendan Rodgers ke Juergen Klopp belum terlalu berdampak signifikan.

Dari hasil mungkin memang begitu adanya, tapi jika menilik bagaimana Liverpool bermain, Klopp sebenarnya telah membawa tim ini ke level yang lebih tinggi. Permainan Liverpool kini setidaknya lebih enak ditonton.

Memang, awal tahun 2016 tak terlalu menyenangkan bagi Liverpool. Menjalani lima pertandingan pada periode 2 Januari hingga 17 Januari, The Reds hanya meraih satu kemenangan. Melawan West Ham United, Arsenal dan Manchester United di Liga Primer, hanya satu poin yang berhasil diraih. Kemenangan baru didapat di Piala Liga melawan Stoke City.

Tapi Liverpool memerlukan perubahan dalam waktu dekat untuk tetap menjaga asa merangsek ke papan atas, atau setidaknya zona Liga Eropa. Untuk melahirkan perubahan yang lebih baik, terdapat dua pilihan bagi Klopp: mengubah skema bermainnya saat ini atau membeli pemain baru untuk mengakomodasi kualitas Robertio Firmino sebagai false 9.

Firmino Sebagai False Nine untuk Memecahkan Masalah di Lini Terdepan

Agen Bola Terpercaya Indonesia – Liverpool dalam beberapa tahun terakhir selalu memiliki stok lini depan yang menumpuk. Di musim ini mereka mengandalkan Benteke, Danny Ings, Daniel Sturridge, dan Divock Origi. Sementara para pemain depan yang dilepas pada awal musim adalah Mario Balotelli, Rickie Lambert dan Fabio Borini.

Sialnya, badai cedera datang. Satu per satu pemain depan Liverpool harus diparkir karena tak bugar. Dimulai Sturridge yang memang mulai rentan mengalami cedera sejak dua musim lalu, disusul Ings yang harus menepi mungkin hingga akhir musim, hingga cedera Origi yang membuat Klopp hanya memiliki Benteke sebagai pemain yang berposisi asli sebagai penyerang.

Akhir Desember lalu Klopp mungkin sempat mengira bahwa Benteke masih bisa diandalkan. Penyerang asal Belgia ini berhasil mencetak dua gol dalam dua pertandingan berbeda untuk memberikan kemenangan tipis 1-0 Liverpool atas Leicester City dan Sunderland. Perlu dicatat, Liverpool menjadi kesebelasan kedua yang mengalahkan Leicester musim ini.

Namun memasuki Januari, Benteke kembali melempem. Ketika Liverpool takluk dari West Ham, eks penyerang Aston Villa ini bermain penuh 90 menit tapi minim kontribusi. Performa buruk Benteke berlanjut di Piala FA ketika masih tetap tak mencetak gol meski lawan yang dihadapi hanya Exeter City, kesebelasan divisi empat.

Klopp sadar bahwa ia tak bisa hanya mengandalkan Benteke di lini depan. Maka kemudian, ia mulai memasang Firmino yang biasanya ditempatkan sebagai gelandang serang sebagai penyerang tunggal pada formasi dasar.

Pada awal 2016, Firmino pertama kali dipasang sebagai penyerang pada laga melawan Stoke. Ini bukan kali pertama ia menempati posisi ini. Menjelang akhir tahun 2015, ia pun sempat menempati posisi yang sama, sebelum Origi mengalami cedera tepatnya.

Ternyata dengan penempatan Firmino sebagai penyerang Liverpool tampil lebih baik. Setelah menang melawan Stoke, giliran Arsenal yang nyaris ditaklukkan di mana pemuda asal Brasil ini mencetak dua gol. Hanya saja skor berakhir imbang 3-3.

Keberhasilan Firmino memainkan peran false 9 kembali terlihat saat Liverpool menghadapi Manchester United. Tercatat Liverpool menciptakan 19 peluang tembakan, dan sejumlah peluang emas tercipta berkat keterlibatan Firmino dalam membangun serangan. Firmino mencatat lima umpan kunci, merupakan yang terbanyak pada laga ini.

Firmino memang berhasil dengan baik memerankan false 9 dalam skema Klopp. Ia kerap turun hingga ke tengah dan menciptakan ruang-ruang yang bisa dimanfaatkan para pemain Liverpool lainnya. Ia juga dengan baik membangun serangan sehingga alur serangan Liverpool lebih cair. Hanya saja rekan-rekan setimnya gagal menuntaskan skema serangan dengan tendangan yang sering melenceng.

Mengubah Skema atau Membeli Penyerang Sayap

Jika berbicara memperbaiki penyelesaian akhir, sosok penyerang baru menjadi hal yang akan dipertimbangkan untuk didatangkan. Namun melihat skema Liverpool yang sekarang ini, dengan Firmino sebagai false 9, rasanya Liverpool lebih membutuhkan penyerang sayap baru.

Dalam penerapan false 9, memiliki pemain sayap yang mumpuni dalam penyelesaian akhir adalah kewajiban. Sebut saja Carlos Tevez ketika masih membela Manchester United dan memainkan peran false 9, di winger MU terdapat Cristiano Ronaldo, atau di Barcelona, Lionel Messi ketika pertama kali dimainkan sebagai false 9 oleh Pep Guardiola, ditemani Samuel Eto’o dan Thierry Henry di lini depan.

Tapi Liverpool tidak demikian. Ketika Klopp memasang Firmino sebagai false 9, tandemnya adalah Adam Lallana yang merupakan gelandang serang, atau James Milner pada pertandingan melawan MU. Klopp seolah hendak meniru Luciano Spaletti yang memasang Francesco Totti sebagai false 9 dan ditemani Simone Perotta sebagai trequartista. Hanya saja Lallana tampak masih belum memahami peran apa yang harus dimainkan karena ia merupakan seorang gelandang serang murni.

Pada laga melawan Arsenal, Klopp memasang formasi dasar 4-3-3 dengan Firmino, Lallana, dan Jordon Ibe sebagai tiga pemain terdepan. Namun pada prakteknya, formasi berubah menjadi 4-4-1-1 ketika menyerang di mana Lallana bermain di tengah sementara Ibe tetap di kanan dan area kiri diisi oleh Milner.

Jika melihat setiap posisi default para pemain yang ada dalam skuat Liverpool saat ini memang hanya Ibe yang berposisi sebagai winger. Pada bursa transfer musim panas lalu, Liverpool sendiri melepas dua pemain sayapnya yaitu Raheem Sterling ke Manchester City dan Lazar Markovic ke Fenerbahce.

Kebutuhan pemain sayap dalam skema Liverpool saat ini terlihat dari jumlah peluang yang disia-siakan para pemain Liverpool. Milner misalnya, ketika melawan MU, mendapatkan peluang di sisi kanan namun tendangannya malah melenceng jauh. Sementara Lallana sempat mendapatkan situasi satu lawan satu hasil umpan Lucas Leiva namun keputusannya untuk menyundul bola membuat attempt tersebut lemah dan bisa diantisipasi kiper MU, David De Gea.

Sementara itu, pemain sayap yang tampaknya tersedia pada bursa transfer Januari ini adalah Ezequiel Lavezzi (Paris Saint-Germain) dan Sofiane Feghouli (Valencia). Keduanya akan berstatus free transfer pada akhir musim ini, di mana bisa memaksa kesebelasan pemilik mereka berdua menjualnya dengan harga yang relatif murah.

Akan tetapi jika Klopp enggan menambah pemain baru khususnya untuk pemain sayap, skema false 9 ini tampaknya harus segera ditinggalkan dan mencari skema baru. Atau setidaknya, manajer asal Jerman tersebut harus mencari cara untuk bisa membuat Benteke, penyerang yang telah mengoleksi 42 gol dari 89 kali penampilan di Liga Primer bersama Aston Villa, bisa kembali menjadi penyerang tajam dengan gelontoran golnya.

Selama ini, strategi alternatif Klopp saat penempatan Firmino sebagai false 9 tak berhasil, ia kemudian memasukkan Benteke pada babak kedua dan mulai melancarkan serangan lewat umpan-umpan panjang atau umpan-umpan silang melalui udara. Jika kurang ampuh, ia kemudian memasukkan Steven Caulker yang baru bergabung dari Queen Park Rangers, sebagai penyerang tambahan karena memiliki tinggi 191cm (sama dengan Benteke) meski ia berposisi asli sebagai bek.

Kesimpulan

Judi Bola Online – Klopp harus segera menemukan solusi di lini depan Liverpool secepatnya. Saat ini, mereka terpaut 13 poin dengan pemuncak klasemen sementara Liga Primer, Arsenal, dan berjarak enam poin dengan Manchester United yang berada di peringkat lima atau posisi terakhir zona Eropa.

Klopp harus menentukan apakah ia akan tetap memainkan Firmino sebagai false 9 atau mempertajam kembali Benteke. Namun dengan melihat permainan Liverpool belakangan, mendatangkan winger baru seperti Lavezzi tampaknya bisa membuat serangan Liverpool lebih efektif ketimbang hanya mengandalkan Ibe, Lallana, atau pun Milner.

Liverpool sulit jika ingin menang hanya dengan skor-skor tipis seperti pada akhir Desember. Kelemahan Liverpool saat ini merupakan kelemahan antisipasi bola mati, seperti ketika menghadapi Arsenal dan Manchester United. Sementara hal tersebut merupakan kelemahan laten Liverpool dari tahun ke tahun, memperbaiki lini serang harusnya menjadi cara yang lebih mudah untuk bisa tampil lebih baik di sisa musim ini.