Agen Bola Terpercaya Indonesia – Leicester City Adalah Kita

Update Terakhir: February 22, 2016

Agen Bola Terpercaya Indonesia - Leicester City Adalah Kita

Agen Bola Terpercaya – Kita semua menyukai Leicester City dengan alasan yang sama mengapa kita secara tak sadar selalu mendukung kontestan dengan latar belakang sosio-ekonomi paling sederhana di acara kompetisi adu bakat di TV. Kita selalu gemar mendukung underdog di mana pun mereka berada, karena secara psikologis kita ingin melihat hukum probabilitas ditunggangbalikkan.

Kita menyukai underdog karena pada satu titik dalam hidup kita juga pernah menjadi underdog, dan tahu bagaimana rasanya dianggap remeh oleh orang lain. Karena itu setiap kita melihat underdog berkompetisi, kita merasa ada bagian dari diri kita yang sedang ikut bertarung di sana.

Tidak hanya itu, kisah soal underdog mempunyai unsur hiburan dan atraksi yang jauh lebih besar. Tengoklah semua film Hollywood yang berlatar belakang olahraga, dari mulai Mighty Ducks hingga Remember The Titans, semuanya berkisah soal perjuangan tim dengan probabilitas kecil untuk menang menuju kejayaan.

Bahkan franchise film olahraga paling lama dan sukses dalam sejarah, Rocky, pada dasarnya hanya bercerita soal seorang petinju underdog keturunan Italia yang selalu bengap pada setiap pertandingan dan meracau tak jelas di pengujung film sebelum meraih kemenangan. Bahkan sekuel terbaru dari franchise ini, Creed (yang entah mengapa tak masuk Indonesia) pun tak jauh-jauh dalam mengambil plot cerita.

Underdog telah lama menjadi narasi yang menghibur dan laku dijual. Bahkan penulis Amerika Serikat abad 19, Horatio Alger Jr. menjadikan underdog sebagai tema utama semua buku-bukunya. Semua buku yang ia tulis selalu memiliki plot utama yang mirip-mirip: underdog dalam hidup yang tumbuh miskin lalu bertarung dalam kompetisi hidup dan keluar sebagai pemenang yang sukses pada akhirnya. Narasi utama Horatio Alger Jr. sepertinya menjadi prekursor bagi produk-produk budaya populer di kemudian hari yang menjagokan underdog.

Maka tidak mengherankan ketika Adrian Butchart, penulis skrip film Goal (dengan protagonis Santiago Munez yang meniti karir dari dusun di Meksiko hingga ke Real Madrid via Newcastle) mengusulkan ide untuk membuat naskah film tentang Jamie Vardy: underdog dari segala underdog.

Vardy adalah perwujudan dari konsep underdog dan keberadaannya penting di balik ketertarikan banyak orang dengan kisah Cinderella Leicester City. Sama seperti Katniss Everdeen dalam trilogi Hunger Games, Jamie Vardy adalah wajah revolusi.

Kita sudah tahu cerita bahwa Jamie Vardy dilepas oleh Sheffield Wednesday pada usia 16 tahun karena dianggap tidak cukup bagus dan akibatnya harus bermain di klub amatir Stocksbridge Park Steels.

Tapi sesungguhnya Vardy bukan satu-satunya pemain reject di Leicester City.

Robert Huth dulu dijual Chelsea karena dianggap kalah kualitas dibanding John Terry, William Gallas, dan Ricardo Carvalho.

Kontrak Marc Albrighton tidak diperpanjang Aston Villa karena dianggap dirinya hanya bisa melepas umpan silang tanpa dilengkapi kemampuan lain.

Kasper Schmeichel selalu hidup di bawah bayang-bayang bapaknya dan ketika dulu ia gagal mendapatkan tempat utama di bawah mistar gawang Manchester City, seketika ia dianggap hanya bermodal nama belakang saja.

Jebolan akademi Manchester United, Danny Drinkwater, tidak pernah bermain sekalipun untuk “Setan Merah” dan dijual keluar dari Old Trafford setelah mengarungi bertahun-tahun masa pinjaman di beberapa klub.

Danny Simpson bernasib lebih baik karena pernah 3 kali bermain untuk Man United di liga, tapi pada akhirnya juga dianggap tidak cukup bagus dan terpaksa hengkang. Demikian juga dengan Ritchie De Laet yang dinilai tidak layak menjadi bek Manchester United.

Riyad Mahrez? Jika memang ia dulu dianggap pemain penting, mana mungkin dirinya hanya dihargai 400.000 poundsterling (lebih kecil dari gaji Wayne Rooney 2 minggu) ketika dulu dilego oleh Le Havre?

Bahkan tak kurang dari manajer Claudio Ranieri pun selalu hidup di bawah label kelas dua. Pekerjaan terakhir The Tinkerman sebelum menggantikan Nigel Pearson sebagai manajer Leicester adalah menjadi pelatih timnas Yunani yang dipecat dengan memalukan karena tidak pernah menang dalam 4 pertandingan dan kalah di kandang dari Kepulauan Faroe.

Ketika Ranieri resmi menjadi manajer Leicester, semua orang menjagokannya mereka sebagai kandidat kuat degradasi. Ranieri adalah pelatih gagal. Leicester adalah klub gagal yang kebetulan beruntung akhir musim lalu. Kali ini mereka pasti gagal.

Kumpulan pemain reject di Leicester City itu sekarang sedang menertawakan para pencibirnya. Kita pun ikut tertawa karena kita membungkam haters adalah hal yang menyenangkan.

***

Agen Judi Bola – Beberapa orang gegabah menyamakan prestasi Leicester City sejauh ini dengan pencapaian Blackburn Rovers di medio 90-an, tapi sesungguhnya itu adalah komparasi yang salah. Ketika menjadi juara liga tahun 1995, Blackburn sudah menjadi klub kuat yang finis sebagai runner-up semusim sebelumnya. Setahun kemarin, Leicester adalah penghuni dasar klasemen dan degradasi terlihat seperti takdir bagi mereka.

Tidak hanya itu, Blackburn ketika itu adalah klub kaya yang dimiliki konglomerat Jack Walker yang, sebagai fan berat Rovers, memecahkan rekor transfer Inggris untuk membeli Alan Shearer dan kemudian Chris Sutton. Leicester memang dimiliki konglomerat juga, tapi pemain termahal yang dibeli pemilik klub asal Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha, hanyalah striker Leonardo Ulloa yang statusnya sekarang hanyalah pemeran pendukung di belakang aktor utama: Vardy dan Mahrez.

Muncul dan ujug-ujug bikin keributan di papan atas, apa yang dilakukan Leicester sekarang lebih mirip apa yang dilakukan Nottingham Forest-nya Brian Clough yang menjuarai liga tahun 1978. Bahkan bisa jadi apa yang dilakukan Leicester sampai tahap ini lebih di luar dugaan dibanding Forest karena reputasi Brian Clough sebagai tukang sulap sudah terbentuk ketika membawa klub kelas kecamatan seperti Derby County juara liga tahun 1972. Reputasi Ranieri hanya sebagai Tinkerman yang lebih doyan gonta-ganti pemain dibanding artis gonta-ganti pasangan.

Masih jauh jalan Leicester untuk mengulangi apa yang dicapai oleh Nottingham Forest, karena tidak hanya menjuarai liga, Forest juga menjuarai European Cup dua kali berturut-turut. Tapi rasanya ini saat yang tepat untuk mulai memberikan Leicester kredit yang pantas mereka dapatkan.

Selama ini Leicester hanya dianggap beruntung semata karena mendapatkan jadwal yang ringan. Namun mengalahkan Chelsea (yang bagaimanapun tetap juara bertahan) membuat mau tak mau publik sepakbola harus menganggap mereka serius. Target Ranieri tetap seperti semula untuk selamat dari degradasi. Usai partai melawan Chelsea, secara implisit Ranieri mengatakan bahwa sekarang targetnya bertambah untuk mengamankan dua pemain bintang mereka ketika ia berkomentar bahwa tak akan ada klub yang bisa membeli Jamie Vardy dan Riyad Mahrez.

Mungkin memang Leicester tak akan keluar sebagai juara di akhir musim nanti. Mungkin segala euforia soal Vardy dan kawan-kawan akan padam beberapa pekan ke depan ketika badai cedera melanda dan rentetan hasil buruk mereka dapatkan. Bahkan mungkin saja Vardy dan Mahrez tak akan berbaju Leicester lagi ketika jendela transfer musim dingin ditutup.

Tapi selama mereka masih berada di puncak dan meraih kemenangan demi kemenangan, Leicester City patut dirayakan.

Apa yang dilakukan Leicester adalah mendobrak oligarki penguasa Liga Inggris. Selama ini yang bisa bertakhta di Premier League hanyalah wajah-wajah lama. Jikalau ada wajah baru, pastilah dengan dukungan dana tak terbatas seperti Manchester City. Leicester menjadi perwujudan usaha untuk meruntuhkan hegemoni.

Tentu saja elit-elit Liga Inggris sedang kebakaran jenggot sekarang melihat bagaimana klub biasa dari daerah seperti Leicester bisa mengangkangi mereka yang berdarah aristokrat. Tentu saja para elit dan oligarki sepakbola ini akan berupaya untuk menggoyang singgasana pimpinan klasemen yang dianggap kampungan seperti Leicester. Segala cara akan ditempuh termasuk taktik klasik menggembosi lawan di bursa transfer.

Inilah mengapa Leicester City harus mendapat dukungan, tak peduli apa klub sepakbola favorit anda, karena Leicester City adalah kita.