Agen Bola Euro – El Shaarawy adalah Perjudian yang Patut Dicoba AS Roma

Update Terakhir: January 29, 2016

Agen Bola Euro - El Shaarawy adalah Perjudian yang Patut Dicoba AS Roma

Agen Bola Terpercaya Indonesia – Kedatangan pemain baru biasanya disambut dengan antusiasme tinggi. Ada harapan yang digantungkan suporter saat melihat wajah baru masuk ke skuat tim kesayangannya. Tapi, tidak dengan kedatangan Stephan El Shaarawy ke AS Roma.

Ada nada skeptis dari suporter yang mengiringi transfer El Shaarawy ke Roma. Memang tidak semua bersikap demikian. Tapi, di saat-saat seret kemenangan seperti ini, sulit memang bagi suporter Roma untuk optimistis.

Pergantian pelatih dari Rudi Garcia ke Luciano Spalletti juga belum menunjukkan hasil positif setelah hanya bermain imbang dengan Hellas Verona dan kalah dari Juventus. Namun, juga perlu diingat bahwa Spalletti baru dua minggu menangani Roma.

Kembali ke El Shaarawy, pertanyaan utama yang merayapi suporter Roma adalah benarkah ia pemain yang tepat untuk menuntaskan masalah tim? Mampukah ia menyelamatkan musim I Lupi?

El Shaarawy direkrut Roma dengan status pinjaman dari AC Milan sampai akhir musim 2015/2016 dengan nilai transfer 1,4 juta euro. Roma punya opsi untuk mempermanenkan pemain berusia 23 tahun itu dengan membayar 13 juta euro.

Sebelum bergabung dengan Roma, nasib El Shaarawy sebenarnya sempat menjadi tanda tanya. AS Monaco memutuskan untuk tak meneruskan peminjaman El Shaarawy, sementara Milan tak bisa menerima pemain berdarah Mesir itu kembali karena stok penyerangnya sudah melimpah.

Jika Monaco dan Milan saja menolak, kenapa Roma mau menampung El Shaarawy?

***

Mempertimbangkan riwayat cedera serta catatannya dalam beberapa musim belakangan, El Shaarawy bisa dibilang perjudian yang penuh risiko untuk Roma.Selama musim 2013/2014 dan 2014/2015, pemain yang dijuluki Il Faraone atau Little Pharaoh itu lebih banyak menghabiskan waktu di ruang perawatan.

Mimpi buruk El Shaarawy berawal ketika ia mengalami cedera saat menjalani latihan bersama Milan pada September 2013. Setelah dipindai, tulang metatarsal di kaki kirinya ternyata mengalami retak sebesar helai rambut.

Cedera tersebut lantas menjadi penghambat karier El Shaarawy. Karena tak kunjung sembuh, El Shaarawy akhirnya naik meja operasi pada bulan Desember 2013 dan baru kembali merumput hampir empat bulan kemudian. Sepanjang musim 2013/2014, setidaknya ada 200 hari yang dihabiskan El Shaarawy untuk memulihkan cederanya dan cuma tampil enam kali di Serie A tanpa mencetak gol sama sekali.

Musim berganti, masalah El Shaarawy masih sama. Cedera metatarsal lagi-lagi jadi pengganjal. Masalah tersebut membuat El Shaarawy absen selama tiga bulan, mulai Januari 2015 hingga awal Mei. Di musim itu, El Shaarawy cuma bermain 18 kali dan bikin tiga gol di Serie A.

Mulai musim 2015/2016, El Shaarawy dipinjamkan Milan ke AS Monaco. Rossoneri tentu berharap pemain yang juga pernah membela Genoa itu akan kembali ke performa terbaiknya setelah melalui masa-masa sulit karena cedera.

Tapi, selama setengah musim memperkuat Monaco, kontribusi El Shaarawy bisa dibilang minim. Dari 24 kali penampilan di semua kompetisi, El Shaarawy cuma mencetak tiga gol dan satu assist. Di Ligue 1, El Shaarawy bahkan tidak bikin satu golpun dari 15 kali penampilannya.

Namun minimnya kontribusi El Shaarawy juga tak lepas dari keputusan manajemen Monaco sendiri. Monaco memang tak punya keinginan untuk mempermanenkan El Shaarawy sehingga membatasi jumlah penampilannya. Dalam kesepakatan dengan Milan, Monaco wajib mempermanenkan El Shaarawy jika si pemain sudah tampil 25 kali.

Perekrutan El Shaarawy juga menimbulkan tanda tanya bagi suporter Roma. Sebab, selain karena dua faktor di atas, lini pertahanan dinilai lebih mendesak untuk dibenahi. Sampai liga berjalan 21 pekan, Roma sudah kemasukan 24 gol, paling buruk di antara lima tim teratas di Serie A.

Kostas Manolas butuh tandem yang lebih tangguh untuk mengawal jantung pertahanan Roma. Di sektor fullback kiri, Roma perlu pelapis untuk Lucas Digne. Sementara fullback kanan lebih kritis. Maicon belakangan lebih sering cedera dan mulai ‘habis’. Sedangkan Vasilis Torosidis dinilai kurang maksimal. Sementara itu, eksperimen Garcia terhadap Alessandro Florenzi di posisi ini tidaklah bisa dibilang berhasil karena si pemain masih lemah dalam bertahan.

Terlepas dari semua keraguan yang menghampiri, El Shaarawy bergabung ke Roma masih cukup menarik untuk menjadi perhatian. Apalagi mengingat potensi yang pernah ia tunjukkan bersama Milan di musim keduanya, 2012/2013.

El Shaarawy tampil menonjol kala itu. Hanya absen sekali dari 38 pertandingan di liga, El Shaarawy mencetak 16 gol dan menyumbang empat assist. Ia juga mencuri perhatian dengan menjadi pencetak gol termuda Milan di Liga Champions (19 tahun 342 hari) setelah menjebol gawang Zenit St. Petersburg pada Oktober 2012.

Kehadiran El Shaarawy yang pasti menambah opsi Spalletti di lini depan terutama dari sisi kiri. El Shaarawy yang banyak beroperasi sebagai winger kiri bisa ditempatkan di belakang striker dalam formasi 4-2-3-1 favorit Spalletti.

Bicara soal posisi winger kiri di Roma, sejatinya masih ada nama Iago Falque di dalam skuat. Gervinho, sebelum akhirnya dilego ke Hebei China Fortune, juga kerap mengisi posisi tersebut.

Statistik Falque dan Gervinho yang kerap dirotasi di sepanjang musim 2015/2016 boleh dibilang tak mengesankan tapi juga tak buruk-buruk amat. Falque mencetak dua gol, dua assist, serta menciptakan 16 peluang dari 17 kali penampilannya di Serie A. Sementara Gervinho yang sedikit lebih baik dalam urusan gol tercatat enam kali menjebol gawang lawan, bikin satu assist, dan menciptakan 15 peluang dari 14 kali penampilan.

Agen 998bet Terbaik – Namun Gervinho yang amat mengandalkan kecepatan seringnya jadi tidak efektif menghadapi tim-tim Serie A yang hobi menumpuk banyak pemain di lini pertahanan. Kecepatan Gervinho hanya akan maksimal ketika Roma melakukan serangan balik. Bisa jadi inilah salah satu alasan buntunya serangan Roma musim ini selain, tentu saja, Edin Dzeko yang seperti lupa cara mencetak gol.

El Shaarawy yang punya gaya bermain berbeda dari Gervinho tentu akan menawarkan darah segar dalam serangan Roma. Soal kecepatan, Gervinho memang tak diragukan lagi. Tapi pemain asal Pantai Gading itu terbilang lemah dalam mengontrol bola serta mengambil keputusan kapan harus menembak atau mengoper. Sementara El Shaarawy dikenal punya dribbling dan teknik yang bagus serta bisa membuka ruang. Dengan kepergian Gervinho, El Shaarawy tinggal bersaing dengan Falque untuk memperebutkan tempat utama di posisi winger kiri.

***

Keberadaan El Shaarawy yang menjadi wajah baru di lini serang Roma memang tidak serta merta menjamin masalah klub asal ibukota itu akan selesai. Sebab, pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Spalletti juga tidak sedikit.

Mental menjadi problem utama yang harus segera dibereskan oleh Spalletti. Pelatih berkepala plontos itu sendiri tak menampik kalau ia harus bisa segera mengembalikan semangat dan karakter tim yang anjlok menyusul serangkaian hasil negatif yang didapat.

Selain menyolidkan lini pertahanan, Spalletti juga harus menemukan formula untuk mengembalikan ketajaman Dzeko dan Mohamed Salah. Dzeko, yang kerap terisolasi hingga akhirnya seret gol, menurun kepercayaan dirinya. Sementara Salah belum kembali ke performanya yang impresif seperti di awal musim setelah pulih dari cedera engkel.

Seperti berjudi, Roma bisa untung tapi bisa juga buntung dengan langkahnya mendatangkan El Shaarawy. Jika Spalletti bisa ‘menghidupkan’ kembali El Shaarawy, maka tidak akan ada masalah. Namun jika ternyata El Shaarawy gagal memenuhi harapan, Roma boleh dibilang akan kekurangan potensi serangan karena Gervinho sudah tidak ada.

Tapi, tidak ada yang salah dengan mencoba. Toh El Shaarawy juga hanya didatangkan dengan status pinjaman. Semua tinggal bagaimana Spalletti memaksimalkan potensi El Shaarawy dan juga si pemain sendiri untuk mengonversi motivasinya yang tinggi menjadi performa oke ke atas lapangan.